.:Al-'Ilmu:. "Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu (syar'i), Allah akan mudahkan baginya jalan menuju syurga." [Hadits Shahih, Riwayat Imam Muslim] 2008-09-03T03:07:37Z WordPress http://afra.blog.friendster.com/feed/atom/ afra http://profiles.friendster.com/12629392 <![CDATA[Hal Yang Disukai Istri Dari Suaminya]]> http://afra.blog.friendster.com/2008/08/hal-yang-disukai-istri-dari-suaminya/ 2008-08-21T05:58:27Z 2008-08-21T05:58:27Z Pemateri : Adi Junjunan Mustafa
Tanggal : 22 Februari 2007

Terkadang
kita ingin tahu juga, apa yang membuat istri kita senang dalam
kehidupan berumah-tangga. Berikut ini adalah satu versi rangkaian sikap
dan sifat yang disukai seorang istri dari suaminya:

1. Penuh Pengertian

Seorang
istri senang diperhatikan dan didengarkan
. Ia senang suaminya memahami
dan mengerti dirinya. Dalam suka dan dukanya. Dalam ceria dan sedihnya.
Ia senang suami mengetahui perasaannya. Ia misalnya senang diberitahu
pakaiannya yang mana yang paling disukai suaminya. Atau masakannya yang
mana yang paling lezat bagi suaminya. Karenanya obrolan-obrolan ringan
dan lembut amat dinanti-nanti seorang istri. Setiap kata yang keluar
dari lidah dan bibirnya adalah pesan cinta yang ingin ia sampaikan. Dan
ia ingin tahu bagaimana suaminya menanggapi pesan cintanya itu.Tangisan
seorang istri itu memiliki sekian banyak makna, bisa karena sedih, bisa
karena marah, bisa karena terharu dan bahagia. Ia senang jika suaminya
bersabar untuk mengenal setiap jenis air mata yang metetes dari
matanya.Pengertian ini menjadi inti dan landasan segala sikap
menyenangkan yang mungkin dilakukan seorang suami terhadap istrinya.

2. Setia
Kesetiaan
adalah syarat utama cinta sejati. Seorang istri ingin cinta suami itu
hanya untuknya. Karenanya kecemburuan adalah bagian dari cinta. Sapaan
sayang di tengah kesibukan, walaupun hanya satu dua menit kata-kata
yang disampaikan lewat telepon, walaupun hanya satu dua kalimat SMS,
akan menjadi pengokoh kepercayaan. Hadiah yang diberikan: martabak
kesukaannya, seikat bunga, atau sebuah jam tangan yang manis akan
menguatkan cinta. Tapi
seorang istri yang baik akan mengatakan, "Jangan karena takut kepadaku,
kakanda bersikap setia. Karena Allah Maha Melihat. Itu yang mesti
menjadi landasan kesetiaan."

3. Sabar dan Pemaaf
Seorang
istri akan amat bersyukur jika suaminya mau menerima dirinya apa
adanya
. Suaminya mampu memaafkan dan bersabar atas kekurangan yang ada
pada dirinya. Ia butuh waktu untuk membina dirinya. Ia bahkan butuh
waktu untuk memahami dirinya sendiri, ketika satu ketika ia tidak
menjadi dirinya sendiri.Seorang istri perlu mendapatkan nasihat, akan
tetapi itu dilakukan dengan penuh kesabaran dan kasih sayang.

Ini
seperti pesan Ilahi: "Kemudian keadaan orang beriman itu adalah saling
menasihati dalam kesabaran dan dalam kasih sayang." (QS. al-Balad);
"Dan jika kalian memaafkan, tidak memarahi, dan mengampuni mereka, maka
sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang." (QS. at-Taghabun)

4. Teguh Hati dan Bersemangat
Seorang
istri senang melihat suaminya senantiasa berteguh hati dan bersemangat
dalam menyelesaikan berbagai tugas dan amanah. Ia senang suaminya dapat
senantiasa prima menunaikan tugas-tugas di luar rumah dan sekaligus
membantu menyelesaikan permasalahan di rumah. Karenanya seorang istri
senang melihat suaminya akrab bercengkrama, bermain dengan
anak-anaknya. Dan saat suami sesekali memasak untuk keluarga, ada
sentuhan hangat menyentuh relung jiwa seorang istri.Bagaimana jika
suaminya berada dalam kondisi bete atau kehilangan semangat? Seorang
istri akan menerima keadaan ini asalkan ia melihat suaminya berusaha
keras untuk melepaskan diri dari keadaan lemah ini. Ia bahkan akan
memberikan bantuan dan doa terbaik bagi suaminya.

5. Romantis
Seorang
istri senang jika suaminya mampu memperlihatkan dan mengekspresikan
cinta dan kasih sayang.
Ia senang mendapati suaminya membangun suasana
kondusif kasih sayang di rumah. Ia senang jika suaminya
romantis. Ia akan terbuka
menyampaikan apa yang ia sukai, ketika suaminya mampu membuka
percakapan dalam masalah ini secara tepat dan penuh kelembutan
(tenderly).

6. Rapi dan Wangi
Seorang istri suka suaminya
rapi. Rapi menata rambut dan rapi berpakaian, bahkan dalam suasana
santai
. Kerapian yang disukai adalah kerapian yang alami dan melekat
dalam kehidupan suami.Sikap suami yang kooperatif dalam menjaga
kerapian rumah juga disukai seorang istri. Karenanya ketika seorang
suami berinisiatif menyapu ruang tengah, membersihkan kompor di dapur,
atau membersihkan kamar tidur dengan membongkar tempat tidur secara
rutin … pada semuanya ada apresiasi dari seorang istri.Rapi, bersih
dan wangi pada seorang suami membuat istrinya senang. Seorang suami
bisa meminta istrinya memilihkan minyak wangi baginya. Ia akan terbantu
menyempurnakan penampilan bagi istrinya.

7. Ceria dan Ramah
Senyum
ceria dan keramahan amat dihajatkan seorang istri. Senyum dan keramahan
itu laksana angin sejuk di tengah berbagai kelelahan dirinya. Berbagai
kesibukan membuat jiwanya lelah. Interaksi dengan anak-anak di rumah
itu bukan pekerjaan ringan. Segenap potensi kejiwaan dan pikiran mesti
ia curahkan. Kelelahan fisik pun tidak ringan. Perhatikanlah, ia mesti
terus memperhatikan anaknya yang terus bergerak kesana kemari,
bereksplorasi ketika mulai bisa merangkak. Dan saat si anak lelah
tertidur, ia mesti bersiap-siap memasak dan merapikan rumah bagi
suaminya yang sebentar lagi pulang …Senyum dan sapaan sayang suami
akan menjadi hiburan jiwa bagi sang istri. Sikap humoris juga amat
membantu seorang istri untuk selalu menjaga suasana riang hatinya.
Ini
semua akan membantunya untuk terus bersabar dan ikhlas dalam menunaikan
tugas-tugasnya.

8. Menjadi Pemimpin yang Melindungi
Istri
membutuhkan perlindungan yang membuatnya senantiasa merasa tentram.
Karenanya ia menyukai sifat kepemimpinan pada suaminya. Kepemimpinan
yang ia harapkan adalah yang senantiasa menentramkan jiwanya,
mengokohkan ruhaninya, memberikan pencerahan demi pencerahan pada
akalnya dan membantu menjaga kebugaran dan kesehatan tubuhnya.

Kepemimpinan
yang ia sukai adalah yang memadukan ketegasan dan kelembutan. Yang
menebarkan cinta, bukan membuat takut. Yang mengedepankan kemauan baik,
bukan senantiasa menggunakan otoritas (misalnya dengan selalu
menggunakan kalimat "suami kan pemimpin rumah tangga, jadi mesti taat
donk"). Yang betul-betul menjadi pemimpin, bukan menjadi boss.

sumber : http://kajian-muslimah.blogspot.com/2007/03/hal-yang-disukai-istri-dari-suaminya.html

Edit By : Afra Afifah

]]>
2
afra http://profiles.friendster.com/12629392 <![CDATA[DAURAH MAHASISWA/I SE-JABODETABEK]]> http://afra.blog.friendster.com/2007/12/daurah-mahasiswai-se-jabodetabek/ 2007-12-08T20:56:57Z 2007-12-08T20:56:57Z 2094713611_8ee3c31c11_b

]]>
0
afra http://profiles.friendster.com/12629392 <![CDATA[Bedah Buku “Leraikan Pertikaian”]]> http://afra.blog.friendster.com/2007/12/bedah-buku-leraikan-pertikaian/ 2007-12-02T11:32:59Z 2007-12-02T11:32:59Z TABLIGH
AKBAR

Bedah Buku
“Leraikan
Pertikaian”
Tentang bahaya
takfir, tahdzir, dan saling menjelekkan
Bersama
Ustadz Andi Arlin
(Penulis)
Selasa,
25 Desember 2007
Pukul 09.00 – 11.00

MASJID NURUL IMAN
KOMPLEK DEPHAN/MABES TNI SUKABUMI UTARA

Contact Person:
Brury:
0817 49 45 460
Sani: 0816 48 16 634
Imam: 0813 1677 0089

Rute Kendaraan:
- Dari Tanah
Abang/Slipi atau Kebayoran Lama naik Mikrolet M09
turun di depan Komplek Dephan Sukabumi Utara (depan graham Pena
Indopos), masuk ke dalam
- Dari Joglo atau Blok M naik Metro Mini 70 turun di RS Medika
Permata Hijau, sambung mikrolet M09 turun di depan Komplek Dephan
Sukabumi Utara, masuk ke dalam
- Dari jalan panjang Kebon Jeruk/Pondok Indah naik B17, turun di
RS Medika Permata Hijau, sambung mikrolet M09 turun di depan Komplek
Dephan Sukabumi Utara, masuk ke dalam

]]>
0
afra http://profiles.friendster.com/12629392 <![CDATA[DAUROH MAHASISWA/I SEJABODETABEK]]> http://afra.blog.friendster.com/2007/12/dauroh-mahasiswai-sejabodetabek/ 2007-12-02T10:54:37Z 2007-12-02T10:54:37Z Assalamu’alaykum wa rahmatullahi wa barakatuh

 

Segala puji hanya bagi Allah, kita memuji-Nya, memohon
pertolongan dan ampunan kepada-Nya, kita berlindung kepada Allah dari kejahatan
diri-diri kita dan keburukan amalan-amalan kita. Barangsiapa yang Allah beri
petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah
sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi
bahwasanya tidak ada Ilah yang berhak diibadahi degan benar kecuali
Allah saja, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwasanya Nabi
Muhammad Shallallahu `Alaihi wa Sallam adalah hamba dan rasul-Nya.

Amma ba’du.

 Kami
dari
FORUM
KAJIAN ISLAM (FKI) "AL-HAQ"
Mahasiswa UI insyaAllah akan mengadakan DAUROH  ISLAMIYAH

 MAHASISWA/I
 SE-JABODETABEK. 

Dengan Tema:

"Bekali
Diri dengan Ilmu Syar’i, Menjadi Pribadi Mahasiswa Muslim Sejati".

Dauroh ini insya Allahu Ta’ala akan dilaksanakan
pada:

Hari
            
:
Ahad-Selasa

Tanggal        : 13-15
Dzulhijjah 1428 H /
23-25 Desember 2007

Tempat         : Masjid Al-Furqon, Jl. Juragan Sinda Raya, Kukusan,
Beji, Depok

 

SUSUNAN ACARA 

Ahad, 13
Dzulhijjah 1428 H / 23 Des 2007

08.30 –
09.30                      
: Pembukaan

  Sambutan Ketua DKM Al-Furqon

  Sambutan Ketua Pelaksana

09.30 –
12.00                      
: Kajian 1: Ust. Kurnaidi, Lc.

 Rukun Iman dan Rukun Islam  

12.00 –
13.00                      
: Ishoma dan ta’aruf antar peserta   

13.00 –
15.30                      
: Kajian 2: Ust. Arman Amri, Lc.

Menjaga Diri dari
Godaan dan Gangguan Syaithan

Senin, 14 Dzulhijjah 1428 H / 24 Des 2007

09.00 –
12.00                      
: Kajian 3: Ust. Badrussalam, Lc.

Kewajiban Menuntut
Ilmu dan Mengamalkannya
 

12.00 –
13.00                      
: Ishoma

13.00
– 15.30          
            :
Kajian 4: Ust.
Ibnu Saini, Lc. 

Keutamaan
Para Shahabat Nabi Radhiyallahu`Anhum
 

Selasa, 15 Dzulhijjah 1428 H / 25 Des 2007

09.00

12.00                      
: Kajian 6: Ust. Djazuli Ukasyah, Lc. 

Ghazwul Fikr (Perang
Pemikiran) dan Jalan Keluarnya

12.00 –
13.00                      
: Ishoma

13.00

15.30                      
: Kajian 7: Ust. Firdaus Sanusi

 Bekal-bekal Menuju
Pernikahan

15.30
– 16.00
                     
: Sholat
`Ashar                         

16.00

16.30            
          : Penutupan

 

I
NFAQ PESERTA :
Rp 10.000,-

(makan siang 3 hari +  snack)

PESERTA TERBATAS: 200 ORANG (IKHWAN DAN AKHOWAT)  

PENDAFTARAN:

1.
Datang langsung ke lokasi dauroh (masjid Al-Furqon), kemudian menghubungi CP
panitia

2.
Via SMS ketik:
NAMA_LENGKAP
/ KAMPUS / ANGKATAN
 

Contoh:
MUHAMMAD HATTA ADAM / UI / 2004

Kirim
ke:

Ikhwan

Hanif
Rasyidi

(021
92786479 / 0812 3309092)

Khairul
Umam

( 021 93514835 /
0856 94254605)

Akhowat

Ummu
Husein (021 93516915)

Ummu ‘Ali (0852
82610286)

3.
Via e-mail kirim NAMA_LENGKAP / KAMPUS / ANGKATAN ke
fki_alhaq@yahoo.
com

 

PEMBAYARAN: 

1.
Kolektif (banyak orang), tranfer ke no. Rek 0006177212 BNI cab. UI Depok

a.n.
Muhammad Hatta Adam,  bawa bukti transfer saat daftar ulang.

2. Bayar di lokasi dauroh saat pendaftaran ulang 23 Des
2007, pukul 06.00-09.00 WIB

 

RUTE:

1. Motor: masuk kampus UI ke
FAKULTAS TEKNIK, menuju Kukusan Teknik

(KUTEK)
lokasi kos2an mahasiswa, lurus terus,  tanya lokasi masjid Al-Furqon
Muhammadiyah.

2. Angkot: naik
bus/angkot apa saja ke terminal DEPOK, naik angkot 04 warna biru

(Depok-Beji-
Kukusan) turun di pertigaan WARUNG MININ (Alfamart dan Indomaret),

tanya
lokasi masjid Al-Furqon Muhammadiyah.

3. Mobil pribadi: lewat Srengseng Sawah menuju Kukusan (Jl. Juragan
Sinda),

tanya
lokasi masjid Al-Furqon Muhammadiyah.

 

KETERANGAN:

1.
Untuk mengetahui info apakah peserta sudah mencapai 200 orang atau belum,

antum/antunna
dapat mengkonfirmasi CP panitia, atau sebalikya panitia yg akan

mengkonfirmasi.

2. Pelajar SMA diperbolehkan mengikuti dauroh, cara
pendaftaran sama seperti mahasiswa.
 

3. Tolong
sebarkan info dauroh  ini ke milis, web, blog, teman, dll. Kami memohon
partisifasi aktif dari antum semua untuk membantu acara daurah ini.

4. Publikasi
dalam bentuk pamflet, leaflet, poster, siaran radio, dsb akan disebarkan
kemudian.

5. Dilarang
berdagang (buku dan sebagainya) kecuali yang telah resmi dari panitia, hal ini
untuk menjaga ketertiban lokasi dauroh)

 

Dauroh ini
diselenggarakan oleh:

FORUM
KAJIAN ISLAM "AL-HAQ"
Mahasiswa Universitas Indonesia bekerjasama dengan DKM Al-Furqon

 

]]>
0
afra http://profiles.friendster.com/12629392 <![CDATA[Cinta, Rindu, Cemburu]]> http://afra.blog.friendster.com/2007/08/cinta-rindu-cemburu/ 2007-08-21T14:24:06Z 2007-08-21T14:24:06Z Cinta, Rindu, dan Cemburu

 

Banyak orang berbicara tentang masalah ini tapi tidak sesuai
dengan yang sebenarnya. Atau tidak menjelaskan batasan-batasan dan maknanya
secara syari. Dan kapan seseorang itu keluar dari batasan-batasan tadi. Dan
seakan-akan yang menghalangi untuk membahas masalah ini adalah salahnya
pemahaman bahwa pembahasan masalah ini berkaitan dengan akhlaq yang rendah dan
berkaitan dengan perzinahan, perkataan yang keji. Dan hal ini adalah salah.
Tiga perkara ini adalah sesuatu yang berkaitan dengan manusia yang memotivasi
untuk menjaga dan mendorong kehormatan dan kemuliaannya.

 

Aku memandang pembicaraan ini yang terpenting adalah
batasannya, penyimpangannya, kebaikannya, dan kejelekannya. Tiga kalimat ini
ada dalam setiap hati manusia, dan mereka memberi makna dari tiga hal ini
sesuai dengan apa yang mereka maknai.

 

1. Cinta (AI-Hubb)

 

Cinta yaitu Al-Widaad yakni kecenderungan hati pada yang
dicintai, dan itu termasuk amalan hati, bukan amalan anggota badan/dhahir.
Pernikahan itu tidak akan bahagia dan berfaedah kecuali jika ada cinta dan
kasih sayang diantara suami-isteri. Dan kuncinya kecintaan adalah pandangan.
Oleh karena itu, Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam, menganjurkan pada
orang yang meminang untuk melihat pada yang dipinang agar sampai pada kata
sepakat dan cinta, seperti telah kami jelaskan dalam bab Kedua.

 

Sungguh telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Nasa’i dari
Mughirah bin Su’bah Radhiyallahu ‘anhu berkata ;”Aku telah meminang seorang
wanita”, lalu Rasulullah

shalallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadaku :’Apakah kamu
telah melihatnya ?” Aku berkata :”Belum”, maka beliau bersabda : ‘Maka lihatlah
dia, karena sesungguhnya hal itu pada akhimya akan lebih menambah kecocokan dan
kasih sayang antara kalian berdua’

 

Sesungguhnya kami tahu bahwa kebanyakan dari orang-orang,
lebih-lebih pemuda dan pemudi, mereka takut membicarakan masalah “cinta”,
bahkan umumnya mereka mengira pembahasan cinta adalah perkara-perkara yang
haram, karena itu mereka merasa menghadapi cinta itu dengan keyakinan dosa dan
mereka mengira diri mereka bermaksiat, bahkan salah seorang diantara mereka
memandang, bila hatinya condong pada seseorang berarti dia telah berbuat dosa.

 

Kenyataannya, bahwa di sini banyak sekali
kerancuan-kerancuan dalam pemahaman mereka tentang “cinta” dan apa-apa yang
tumbuh dari cinta itu, dari hubungan antara laki-laki dan perempuan. Dimana
mereka beranggapan bahwa cinta itu suatu maksiat, karena sesungguhnya dia
memahami cinta itu dari apa-apa yang dia lihat dari lelaki-lelaki rusak dan
perempuan-perempuan rusak yang diantara mereka menegakkan hubungan yang tidak
disyariatkan. Mereka saling duduk, bermalam, saling bercanda, saling menari,
dan minum-minum, bahkan sampai mereka berzina di bawah semboyan cinta. Mereka
mengira bahwa ‘cinta’ tidak ada lain kecuali yang demikian itu. Padahal
sebenarnya tidak begitu, tetapi justru sebaliknya.

 

Sesungguhnya kecenderungan seorang lelaki pada wanita dan
kecenderungan wanita pada lelaki itu merupakan syahwat dari syahwat-syahwat
yang telah Allah hiaskan pada manusia dalam masalah cinta, Artinya Allah
menjadikan di dalam syahwat apa-apa yang menyebabkan hati laki-laki itu
cenderung pada wanita, sebagaimana firman Allah Ta’ala (yang artinya) :

 

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada
apa-apa yang diingini, yaitu : wanita-wanita, anak-anak,… “,

(Q.S Ali¬-Imran : 14)

 

Andaikan tidak ada rasa cinta lelaki pada wanita atau
sebaliknya, maka tidak ada pernikahan, tidak ada keturunan dan tidak ada
keluarga. Namun, Allah Ta’ala tidaklah menjadikan lelaki cinta pada wanita atau
sebaliknya supaya menumbuhkan diantara keduanya hubungan yang diharamkan,
tetapi untuk menegakkan hukum-hukum yang disyari’atkan dalam bersuami isteri,
sebagaimana tercantum dalam hadits Ibnu Majah, dari Abdullah bin Abbas
radiyallahu anhuma berkata : telah bersabda Rasulullah shalallahu alaihi wa
sallam :

 

“Tidak terlihat dua orang yang saling mencintai, seperti
pemikahan …”

 

Dan agar orang-orang Islam menjauhi jalan-jalan yang rusak
atau keji, maka Allah telah menyuruh yang pertama kali agar menundukan
pandangan, karena pandangan’ itu kuncinya hati, dan Allah telah haramkan semua
sebab-sebab yang mengantarkan pada Fitnah, dan kekejian, seperti berduaan
dengan orang yang bukan mahramya, bersenggolan, bersalaman, berciuman antara
lelaki dan wanita, karena perkara ini dapat menyebabkan condongnya hati. Maka
bila hati telah condong, dia akan sulit sekali menahan jiwa setelah itu,
kecuali yang dirahmati Allah Subhanahu wa ta’ala.

 

Allah lah yang menghiasi bagi manusia untuk cinta pada
syahwat ini, maka manusia mencintainya dengan cinta yang besar, dan sungguh
telah tersebut dalam hadits bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

 

“Diberi rasa cinta padaku dari dunia kalian ; wanita dan
wangi-wangian dan dijadikan penyejuk mataku dalam sholat”

( HR Ahmad, Nasa’i, Hakim dan Baihaqi)

 

Bahwa Allah tidak akan menyiksa manusia dalam kecenderungan
hatinya. Akan tetapi manusia akan disiksa dengan sebab jika kecenderungan itu
diikuti dengan amalan-amalan yang diharamkan. Contohnya : apabila lelaki dan
wanita saling pandang memandang atau berduaan atau duduk cerita panjang lebar,
lalu cenderunglah hati keduanya dan satu sama lainnya saling mencinta, maka
kecondongan ini tidak akan menyebabkan keduanya disiksanya, karena hal itu
berkaitan dengan hati, sedang manusia tidak bisa untuk menguasai hatinya. Akan
tetapi, keduanya diazab karena yang dia lakukan. Dan karena keduanya melakukan
sebab yang menyampaikan pada ‘cinta’, seperti telah kami sebutkan. Dan keduanya
akan dimintai tanggungjawab dan akan disiksa juga dari setiap keharaman yang
dia perbuat setelah itu.

 

Adapun cinta yang murni yang dijaga kehormatannya, maka
tidak ada dosa padanya, bahkan telah disebutkan oleh sebagian ulama seperti
Imam Suyuthi, bahwa orang yang mencintai seseorang lalu menjaga kehormatan
dirinya dan dia menyembunyikan cintanya maka dia diberi pahala, sebagaimana
akan dijelaskan dalam ucapan kami dalam bab ‘Rindu’. Dan dalam keadaan yang
mutlak, sesungguhnya yang paling selamat yaitu menjauhi semua sebab-sebab yang
menjerumuskan hati dalam persekutuan cinta, dan mengantarkan pada bahaya-bahaya
yang banyak, namun sangat sedikit mereka yang selamat.

 

2. Rindu (Al-’Isyq)

 

Rindu itu ialah cinta yang berlebihan, dan ada rindu yang
disertai dengan menjaga diri dan ada juga yang diikuti dengan kerendahan. Maka
rindu tersebut bukanlah hal yang tercela dan keji secara mutlak. Tetapi bisa
jadi orang yang rindu itu, rindunya disertai dengan menjaga diri dan kesucian,
dan kadang-kadang ada rindu itu disertai kerendahan dan kehinaan.

 

Sebagaimana telah disebutkan, dalam ucapan kami tentang
cinta maka rindu juga seperti itu, termasuk amalan hati, yang orang tidak mampu
menguasainya. Tapi manusia akan dihisab atas sebab-sebab yang diharamkan dan
atas hasil-hasilnya yang haram. Adapun rindu yang disertai dengan menjaga diri
padanya dan menyembunyikannya dari orang-orang, maka padanya pahala, bahkan
Ath-Thohawi menukil dalam kitab Haasyi’ah Marakil Falah dari Imam Suyuthi yang
mengatakan bahwa termasuk dari golongan syuhada di akhirat ialah orang-orang
yang mati dalam kerinduan dengan tetap menjaga kehormatan diri dan
disembunyikan dari orang-orang meskipun kerinduan itu timbul dari perkara yang
haram sebagaimana pembahasan dalam masalah cinta.

 

Makna ucapan Suyuthi adalah orang-orang yang memendam
kerinduan baik laki-laki maupun perempuan, dengan tetap menjaga kehormatan dan
menyembunyikan kerinduannya sebab dia tidak mampu untuk mendapatkan apa yang
dirindukannya dan bersabar atasnya sampai mati karena kerinduan tersebut maka
dia mendapatkan pahala syahid di akhirat.

 

Hal ini tidak aneh jika fahami kesabaran orang ini dalam
kerinduan bukan dalam kefajiran yang mengikuti syahwat dan dia bukan orang yang
rendah yang melecehkan kehormatan manusia bahkan dia adalah seorang yang sabar,
menjaga diri meskipun dalam hatinya ada kekuatan dan ada keterkaitan dengan
yang dirindui, dia tahan kekerasan jiwanya, dia ikat anggota badannya sebab ini
di bawah kekuasaannya. Adapun hatinya dia tidak bisa menguasai maka dia
bersabar atasnya dengan sikap afaf (menjaga diri) dan menyembunyikan
kerinduannya sehingga dengan itu dia mendapat pahala.

 

3. Cemburu (Al-Ghairah)

 

Cemburu ialah kebencian seseorang untuk disamai dengan orang
lain dalam hak-haknya, dan itu merupakan salah satu akibat dari buah cinta.
Maka tidak ada cemburu kecuali bagi orang yang mencintai. Dan cemburu itu
ternasuk sifat yang baik dan bagian yang mulia, baik pada laki-laki atau
wanita.

 

Ketika seorang wanita cemburu maka dia akan sangat marah
ketika suaminya berniat kawin dan ini fitrah padanya. Sebab perempuan tidak
akan menerima madunya karena kecemburuannya pada suami, dia senang bila
diutamakan, sebab dia mencintai suaminya. Jika dia tidak mencintai suaminya,
dia tidak akan peduli (lihat pada bab 1). Kita tekankan lagi disini bahwa
seorang wanita akan menolak madunya, tetapi tidak boleh menolak hukum syar’i
tentang bolehnya poligami. Penolakan wanita terhadap madunya karena gejolak
kecemburuan, adapun penolakan dan pengingkaran terhadap hukum syar’i tidak akan
terjadi kecuali karena kelalaian dan kesesatan.

 

Adapun wanita yang shalihah, dia akan menerima hukum-hukum
syariat dengan tanpa ragu-ragu, dan dia yakin bahwa padanya ada semua kebaikan
dan hikmah. Dia tetap memiliki kecemburuan terhadap suaminya serta
ketidaksenangan terhadap madunya.

Kami katakan kepada wanita-wanita muslimah khususnya, bahwa
ada bidadari yang jelita matanya yang Allah Ta’ala jadikan mereka untuk orang
mukmin di sorga. Maka wanita muslimat tidak boleh mengingkari adanya ‘bidadari’
ini untuk orang mukmin atau mengingkari hai-hal tersebut, karena dorongan
cemburu.

 

Maka kami katakan padanya :

1. Dia tidak tahu apakah dia akan berada bersama suaminya di
surga kelak atau tidak.

2. Bahwa cemburu tidak ada di surga, seperti yang ada di
dunia.

3. Bahwasanya Allah Subhanahu wa ta’ala telah mengkhususkan
juga bagi wanita dengan kenikmatan-kenikmatan yang mereka ridlai, meski klta
tidak mengetahui secara rinci.

4. Surqa merupakan tempat yang kenikmatannya belum pernah
terlihat oleh mata, terdengar oleh telinga dan terbetik dalam hati manusia,
seperti firman Allah Ta’ala :

“Seorangpun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk
mereka yaltu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata scbagai
balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan??

(Q.S As-Sajdah : 17)

 

Oleh karena itu, tak seorang pun mengetahui apa yang
tcrsembunyi bagi mereka dari bidadari-bidadari penyejuk mata sebagai balasan
pada apa-apa yang mereka lakukan. Dan di sorga diperoleh kenikmatan-kenikmatan
bagi mukmin dan mukminat dari apa-apa yang mereka inginkan, dan juga didapatkan
hidangan-hidangan, dan akan menjadi saling ridho di antara keduanya sepenuhnya.
Maka wajib bagi keduanya (suami-isteri) di dunia ini untuk beramal sholeh agar
memperoleh kebahagiaan di sorga dengan penuh kenikmatan dan rahmat Allah Ta’ala
yang sangat mulia lagi pemberi rahmat.

 

Adapun kecemburuan seorang laki-laki pada keluarganya dan
kehormatannya, maka hal tersebut ‘dituntut dan wajib’ baginya karena termasuk
kewajiban seorang laki-laki untuk cemburu pada kehormatannya dan kemuliaannya.
Dan dengan adanya kecemburuan ini, akan menolak adanya kemungkaran di
keluarganya. Adapun contoh kecemburuan dia pada isteri dan anak-anaknya, yaitu
dengan cara tidak rela kalau meraka telanjang dan membuka tabir di depan laki-laki
yang bukan mahramnya, bercanda bersama mereka, hingga seolah-olah laki-laki itu
saudaranya atau anak-anaknya.

 

Anehnya bahwa kecemburuan seperti ini, di jaman kita
sekarang dianggap ekstrim-fanatik, dan lain-lain. Akan tetapi akan hilang
keheranan itu ketika kita sebutkan bahwa manusia di jaman kita sekarang ini
telah hidup dengan adat barat yang jelek. Dan maklum bahwa masyarakat barat
umumnya tidak mengenal makna aib, kehormatan dan tidak kenal kemuliaan, karena
serba boleh (permisivisme), mengumbar hawa nafsu kebebasan saja. Maka
orang¬orang yang mengagumi pada akhlaq-akhlaq barat ini tidak mau memperhatikan
pada akhlaq Islam yang dibangun atas dasar penjagaan kehormatan, kemuliaan clan
keutamaan.

 

Sesungguhnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam telah
mensifati seorang laki-laki yang tidak cemburu pada keluarganya dengan
sifat-¬sifat yang jelek, yaitu Dayyuuts: Sungguh ada dalam hadits yang
diriwayatkan oleh Imam Ath-Thabraani dari Amar bin Yasir ; serta dari Al-Hakim,
Ahmad dan Baihaqi dan Abdullah bin Amr , dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam
bahwa ada tiga golongan yang tidak akan masuk surga yaitu peminum khomr,
pendurhaka orang tua dan dayyuts. Kemudian Nabi menjelaskan tentang dayyuts,
yaitu orang yang membiarkan keluarganya dalam kekejian atau kerusakan, dan
keharaman.

 

(Dikutip darikitab Ushulul Mu’asyarotil Zaujiyah, Penulis:
Al-Qodhi Asy-Syaikh Muhammad Ahmad Kan’an, Edisi

Indonesia

“Tata Pergaulan Suami Istri Jilid I?? Penerbit Maktabah Al-Jihad, Jog)

 

]]>
0
afra http://profiles.friendster.com/12629392 <![CDATA[Tidak Menyiakan Waktu Orang Lain…]]> http://afra.blog.friendster.com/2007/05/tidak-menyiakan-waktu-orang-lain/ 2007-05-25T14:59:21Z 2007-05-25T14:59:21Z Nasihat untuk diriku dan kalian, wahai saudaraku…

Oleh Seriyawati
24 Jul 06 07:24 WIB

"Nanti kita ketemu jam 12:00 di sekitar bundaran itu, ya…" kata teman saya. Tetapi hampir mendekati jam satu, batang hidungnya pun tak terlihat.

Di lain waktu, ada pula yang berkata, "Acaranya jam 11:00. Jangan datang terlambat, ya." Acaranya saja mulai jam 11:00, katanya. Tentunya beberapa menit sebelum jam 11:00 orang-orang sudah ada di tempat.
Tetapi sampai jarum panjang jam melewati angka tiga pun, masih belum terdengar suara detak sepatu mendekat.

Begitu pula pada suatu acara, penanggungjawab acara meminta kepada peserta agar jangan datang terlambat tetapi panitianya sendiri datang terlambat. Sampai seorang anak berkata, "Nan da, dare mo inai jan…" ("Apaan, ngga ada siapa-siapa lho, ya…").

Benar sekali, rasa kecewa tentu dirasakannya. Seorang anak belajar dari orang dewasa dan lingkungan. Sekali dua kali dia hanya melihat dan mengemukakan kekecewaannya.

Lain waktu dia akan berkata, "Ngga usah cepat-cepat pergi, deh. Paling-paling nanti juga nunggu lagi. Molor lagi…" Dia akan beradaptasi dengan keadaan dan lingkungan seperti itu.

***

Suatu hari saya mengatakan kepada teman bahwa saya akan sampai di stasiun dekat rumahnya jam 10:14. Untuk sampai tepat waktu, maka saya harus naik kereta listrik yang berangkat jam 09:55. Di tengah jalan, saya baru ingat kalau saya meninggalkan catatan kecil jam berangkat dan ganti kereta.

Dan ternyata saya juga lupa menaruh botol minuman ke dalam tas.
"Ah, coba seandainya tadi kembali ke rumah buat ngambil catatan kecil, mungkin botol minuman pun akan teringat. Toh, bisa naik kereta berikutnya yang jam 10:05. Ngga apa-apalah terlambat 10 menit,"
gumam saya sambil menunggu kereta tiba.

Seandainya saya memutuskan kembali ke rumah dan terlambat dari janji bertemu teman, mungkin teman saya akan bisa maklum dan memaafkan keterlambatan saya. Untaian kata-kata pembelaan diri pun siap terucap. "Maaf ya, terlambat. Saya ketinggalan ini itu."
"Maaf, saya terlambat. Kereta listriknya cepat sekali menutupkan pintunya sebelum saya masuk."

Atau kalimat lainnya. Tetapi dengan begitu saya akan membuatnya menunggu. Saya akan menyiakan waktunya.

***

Saya selalu datang tepat waktu? Tidak. Saya pun kadang datang terlambat. Apalagi kalau pergi dengan anak-anak yang belum terbiasa mengejar kereta, gesit menuruni anak tangga, atau memutar tubuh saat tikungan. Mereka pun belum terbiasa melarikan kaki secepat mungkin bila terdengar tanda kereta akan tiba. Maka siasat mempercepat waktu berangkat, menunda pekerjaan rumah ataupun mengorbankan belanja keperluan dapur yang sedang dijual murah adalah langkah yang saya pilih agar tidak terlambat.

Saya tak ingin membuat orang lain menunggu. Meragukan ucapan saya di lain waktu terlebih lagi saya tidak mau menyiakan waktu orang lain. Karena saya tak ingin orang lain menyiakan waktu saya. Bukankah kita kadang bergumam saat waktu yang ditentukan sudah lewat?
"Hah.mendingan tadi beres-beres rumah dulu."
"Coba tadi cuciannya dijemur dulu, entar pulang sudah kering…"
"Lebih baik tadi belanja dulu, hari ini harga telur dan susu pas lagi murah. Haaahhh…"

Kecewa. Resah. Kesal. Bahkan perasaan marah pun mungkin sekali dirasakan orang yang menunggu lebih dari waktu kesepakatan.

***

Kebiasaan membuat orang lain menunggu tidaklah pantas disuburkan.
Bukankah menyiakan waktu orang lain sama dengan kita berbuat zalim kepadanya? Waktu berharga bagi kita, begitu juga bagi orang lain.
"Manfaatkanlah lima kesempatan sebelum datang lima kesempitan: masa mudamu sebelum masa tuamu, sehatmu sebelum sakit, kayamu sebelum miskin, masa luangmu sebelum sibuk, hidupmu sebelum mati." (HR. Al-Hakim)

Wallahu’alam bisshowab.

Nagoya, Juli 2006 seri27@bintang7.net (flp-Jepang)

]]>
0
afra http://profiles.friendster.com/12629392 <![CDATA[Radio Dakwah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah]]> http://afra.blog.friendster.com/2007/05/radio-dakwah-ahlus-sunnah-wal-jamaah/ 2007-05-25T14:44:11Z 2007-05-25T14:44:11Z Radio01 Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhu.

Tidakkah kita ingin bahagia dan termasuk orang-orang yang beruntung di negeri akhirat nanti. Lalu apa yang menghalangi kita untuk segera meraup ilmu agama dan amal shalih, sebagaimana kita berambisi meraup ketinggian ilmu dunia karena tergambar suksesnya masa depan kita di dunia yang fana ini?

Begitu besarnya manfaat dan faidah ilmu bagi kebahagiaan hidup setiap muslim, baik di dunia terlebih sebagai bekal kehidupan yang pasti dan abadi di akhirat. Dilandasi oleh begitu pentingnya ilmu sebagai jalan untuk meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Alhamdulillah dari bumi Cileungsi, Radio RODJA AM 990 KHz ,Radio Dakwah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah telah hadir mengudara kehadapan kita semua yang bertujuan :

a.Menumbuhkan semangat dan kecintaan kaum muslimin terhadap ilmu-ilmu Islam yang shahih, yang bersumber pada Al Qur’an dan As Sunnah menurut pemahaman generasi salafush shalih.

b. Memenuhi kebutuhan kaum muslimin dalam penyebaran dakwah dan informasi yang bermanfaat bagi kehidupannya di dunia, terlebih kehidupan yang pasti dan abadi di akhirat.

c. Menyampaikan dan menjelaskan tauhid, syirik, sunnah dan bid’ah melalui metode Tasfiyah dan Tarbiyah. Dengarkan selalu kajian : Tauhid, Tafsir Al-Qur’an, Hadits, Fiqh, Ilmu Ushul Bida’, Masail Jahiliyyah, Siyasah Syar’iyyah, Akhlak, Murottal, Bahasa Arab, dll.

Insya’ Allah dibimbing oleh para ustadz, da’i yang terpercaya. Rodja AM 990 KHz, Meniti Jejak Salafus sholih dengan Ilmu, Amal dan Dakwah.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhu.

[ Dari milis assunnah ]

]]>
9
afra http://profiles.friendster.com/12629392 <![CDATA[Istri Sholehah]]> http://afra.blog.friendster.com/2007/03/istri-sholehah/ 2007-03-23T19:14:53Z 2007-03-23T19:14:53Z Vro0oscafmccl5ca1twyiacacmon04ca1kfsimca_1 Rembulan masih bercanda dengan burung malam, enggan pulang ke peraduan. Suasana kampus pun semakin sepi, hanya tembok-tembok bisu menemani. Capek, tapi syukur banget, gak nyangka kerjaan kelar juga! Haus dan lapar, membuat ingin segera pulang. Membayangkan makanan lezat buatan istri tercinta, kaki pun semakin cepat melangkah.

"Assalaamu alaykum…," seraya membuka pintu. Tak ada balasan, gelap, lampu-lampu telah dimatikan. Aaah… istri sudah lelap, sambil tangan memeluk kedua buah hati tercinta dengan bias penat di wajah. Mau mandi takut reumatik, karena sekarang udah masuk musim dingin, brrr… Ya udah dilap basah aja deh, kemudian baju yang rapi jali kalo ke lab, diganti dengan baju kebesaran, sarung butut dan kaos buluk.

"Ummi…!!!" teriakan membuatnya kaget dan terbangun, lalu tergopoh-gopoh menghampiri. "Gimana sih, kok masak cuma segini! Lagian kok asin banget, masaknya sambil tidur ya!" "Yang benar dong kalo masak,

kan

saya capek, mesti belajar, ngumpulin jurnal, buat masakan yang benar gak bisa ya?" Yaa… langsung deh, mendung berarak di telaga mata.

Rasa kesal dan jengkel semakin membludak. Tak lupa sindiran, "Katanya dulu sering ikutan kursus masak, kursus ini kursus itu, mestinya tau dong cara melayani suami!"

Wah benar, tak lama hujan air mata pun tumpah. "Cengeng banget sih, katanya mau jadi istri sholehah, istri sholehah

kan

mesti patuh sama suami! Ya udah…

sana

buatin Indomie!" sembari duduk di depan TV.

Buyar rasanya nasehat yang pernah didengar tentang akhlak junjungan kepada istri-istrinya. Sebaik-baik kamu adalah yang paling baik terhadap keluarganya, demikian pesan Rasulullah Sallallaahu Alayhi Wasallam. Tapi beliau

kan

Rasul, berkata dalam hati, beda dong!

*****

Fuih… kerjaan emang gak pernah abis-abis, selesai yang satu, yang lain menyusul. "Kalo gak gini kamu gak bakal selesai, di Jepang sistem belajarnya memang seperti ini," kata sensei. Dalam hati cuma ngedumel, "Wah, ngerjain banget nih!" Lalu sibuk lagi, gak pernah berhenti, selalu dikejar deadline jurnal yang menatap angkuh di depan meja belajar.

Suntuk baca jurnal, baca koran online dulu aah… nyantai bentar. Eh, ada email masuk, balas dong, teman lama rupanya. Wah dibalas lagi, "Chatting aja yuk," langsung dibalas, "Ayo, siapa takut!" Lalu cekikikan depan komputer, mengenang masa-masa kuliah dulu. Lho, kerjaan dari sensei gimana? Ntar SKS lagi, orang Jepang aja sering lembur sampai pagi, membenarkan dalam hati.

Kring… dering telepon, kaget, karena tadi khusyu’ depan komputer. "Udah malam bang, kok belum pulang?" tanya istri. "Iya nih, tuh sensei nyuruh itu ini, datanya salah-lah, eksperimennya gak benar-lah, padahal udah capek-capek ngerjain dari tadi, gak tau maunya apa sih?" disambung bla… bla… bla…, seribu satu alasan penyucian diri.

"Pulang aja dulu, ntar bisa sambung besok lagi," bujuk istri, perhatian banget sama suami. "Malam ini masakannya ditanggung enak lho, spesial buat abang tersayang," sambung istri kembali. "Iya deh, ntar abang kerjain di rumah saja," luluh dengan kasih sayang istri, seraya jari mengirim pesan di layar komputer, "Besok ya chatting lagi."

"Gini nih, istri abang tersayang, masakannya enak banget," memuji masakan istri yang udah ludas, tak ada sisa. "Eh, kok dipuji, malah mesem-mesem sih?" tanya sang suami heran. "Iya, saya juga belum makan. Tadi niatnya mau barengan, tapi lihat abang kaya’nya lapar banget, ya udah makan aja duluan, lagian dipikir

kan

pasti ada sisanya." Gedubrag!!! "Kamu sih, gak bilang-bilang!!! Mestinya kasih tau, jadinya gak diabisin, jadi istri jangan cuma diam doang!!!" Duuh… yaa Allah, salah lagi.

*****

"Abi…," teriak si sulung, keluar menyambut dan minta digendong. Anak, kadang jadi pelepas lelah. Capek karena sepekan keluar

kota

, rasanya langsung hilang, terhapus karena kerinduan kepada darah daging tercinta. Duuh… bau apaan nih, "Belum mandi ya?" sambil mencium lagi sang buah hati. "Belum. Malah dari pagi, pe-de aja lagi."

Wah, nih ummi-nya gimana sih, punya anak kok gak diperhatiin! Jengkel muncul kembali.

"Abi, orang Jepang kok gak bau ya, padahal mereka

kan

jarang mandi?" iseng, tanya buah hati. "Iya kali’," acuh tak acuh menjawab. Namanya juga anak kecil, pingin tau segala hal, "Kok abi gak tau sih?

Kan

katanya sekolah tinggi." Yee… nih anak, emang abi-nya ngurusin orang Jepang yang jarang mandi. "Iya,

kan

mereka sibuk sekali, jadinya mungkin jarang mandi, lagian siapa bilang gak bau," jawab seenaknya. "Persis abi dong,

kan

abi mandinya juga cuma pagi," lugu, buah hati berujar. "Bandel ya!" seraya tangan menjewer. "Ummi…!!!" teriaknya berlari sambil nangis.

"Assalaamu alaykum…," astaghfirullah… nih rumah apa kapal pecah? Pakaian yang udah kering tapi belum disetrika menggunung disana-sini, mainan berserakan, belum lagi cucian kotor, wow… berember-ember. Istighfar… istighfar… sambil mengurut dada.

"Waalaykumussalam… afwan ya, belum sempat diberesi," seraya menggendong si kecil yang baru setahun lalu lahir, dan tangan satunya lagi membujuk si sulung yang masih menangis. Lalu kembali dengan kesibukannya, masak buat kekasih hati yang baru pulang presentasi

"Istri sholehah itu mestinya bisa mengatur rumah tangga. Pintar membagi waktu, kapan harus masak, kapan nyetrika, nyuci, beresin rumah, biar gak berantakan seperti tadi. Nyambut kedatangan suami juga

kan

mestinya bisa lebih rapi, masa’ sih nyambut suami penampilannya kucel banget, dandan dong, jadinya suami merasa dihargai, betah dirumah, kalo gak… siapa tahu tuh suami ntar kawin lagi, bla… bla… bla…," ceramah sang suami kepada istri, saat buah hati telah dibuai mimpi.

Gak lama, meledaklah tangis sang istri, kali ini terdengar lebih pilu. "Ah… wanita, gampang sekali menangis," berkata dalam hati. Ngurus dua anak aja kok sulit sih, gimana ntar mau bikin Rasul bangga nih kelak di akhirat nanti?

*****

Baru saja dengan anak-anak tiba kembali di rumah, setelah menghantar ummi-nya ke rumah sakit, kelelahan, harus bedrest kata dokter.

Masih teringat pesan sang istri, "Jagain anak-anak ya, afwan… disuruh dokter istirahat 3 hari di rumah sakit, badan lemes banget rasanya, nanti kalau mau makan, simpanan abon dan rendang masih ada di lemari, lalu kalo…," belum sempat istri menyelesaikan perkataannya, udah disela, "Udah… gak apa-apa kok, insya Allah suasana akan aman dan terkendali." Wuih… pe-de abis selaku suami, semua masalah gampang diatasi, maklum laki-laki, berat di gengsi.

Wuaaah…..!!!
Perasaan, baru saja anak tertua asyik main dengan mainannya, kok bisa langsung nangis? "Abi…..!!! Mau pipis," teriaknya. Kaget, ide baru untuk membuat jurnal jadi buyar, "Pipis sendiri gak bisa ya?" balas teriak, biar gak kalah wibawa dengan anak. "Temenin dong, wuaaah…..!!!"jeritnya lagi. Waduh, anak-anak kok gak ngerti ya, sambil tergopoh-gopoh mendatangi. "Abi

kan

lagi sibuk, lain kali pipis sendiri!" gak lupa mulut juga mengomel.

Belum juga sampai di toilet, "Abi…, udah pipis nih," sambil menunjuk celana dan lantai yang udah basah. Wuaaah…..!!! Kali ini gantian berteriak, sambil gak lupa tangan ikut menjewer. Nih, rasain!!!

Kaget dengan teriakan, yang bungsu mendadak bangun, "Cup… cup… sayang, kaget ya?" sambil digendong. Ke dapur, buatin susu botol, duuh… air panasnya abis, harus masak air dulu nih. Sementara tangis kedua buah hati semakin nyaring, wuaaah…..!!!

Alhamdulillah, lega… Kedua buah hati tersayang udah kalem, yang bungsu kembali tidur sambil tangannya memegang botol susu. Hm… abangnya pun tampak pulas disampingnya. Istirahat dulu aaah…, menghela nafas sambil meregangkan otot, jemari tangan diremas sampai bunyi plitak-plituk, kepala diputar kiri-kanan, tak lupa badan juga diplintir, alhamdulillah, suasana aman dan terkendali.

Kerja lagi, Aaah… Tiba-tiba terkenang saat dulu sebelum menikah. Sulitnya mencari teman sejati, belum lagi disindir sana-sini. "Sini deh dicariin, mau gak?" Iih, emangnya yang mau nikah situ! Sebel!!! Pake nyariin lagi, emang gue kagak laku!!! Biar gini-gini kuliahnya di Jepang boo…!!! Masa depan terjamin, nilai jual tinggi. Wuih… keren.

Emang, kadang seruntun pertanyaan silih berganti menelusup di hati, siap gak ya?

Kan

masih kuliah, ntar anak orang mau dikasih makan apa? Tapi, pernikahan begitu indah terdengar, ehm… Namun, benar juga sebuah kata-kata bijak, ‘Jika berani menyelam ke dasar laut mengapa terus bermain di kubangan, kalau siap berperang mengapa cuma bermimpi menjadi pahlawan?’

Bismillah…, niat untuk ibadah, maju tak gentar buat melamar. Alhamdulillah, semuanya berjalan lancar, kalaupun ada pernik-pernik pertengkaran, emangnya ada yang anteng-anteng saja? Rezeki selalu saja ada, emang selalu benar janjinya Allah. Duuh… kala sepi begini, kok jadi kangen banget ya sama istri, adakah engkau pun memikirkan diriku, duhai kekasih hati? Gleg! Mendadak jadi sentimentil.

Wuaaah…..!!!
Kaget lagi, lamunan amblas. Ya Allah…, lama-lama jantungan juga nih.

"Abi…..!!!" teriak anak tertua. Duh… anak laki-laki kok jadi cengeng gini? Mungkin karena beda umur ama adiknya jauh sih. Gak lama bunyi gedebag-gedebug, wah… berantem. Rupanya kaki si kecil gak sengaja nendang abangnya waktu tidur, gak terima, abangnya balas juga. Pusying… pusying…!!! Ya udah, biar adil dua-duanya dicubit, "Nih rasain!!!" sambil nyubitnya pakai seni, diplintir. Wuaaah…..!!! Bukannya diam, tambah kencang menangis, malah saling sahut-sahutan. Yaa Allah… kok jadi begini? Gak tahan juga, akhirnya juga ikutan teriak dan lebih kencang, wuaaah………………….!!!!!

"Abi… Abi…, bangun dong, ditungguin nih sholat subuhnya! Kok ngigau teriak-teriak sih," buah hati membangunkan, seraya tangan kecilnya menggoyang-goyang tubuh abi-nya. Yaa Allah… alhamdulillah, cuma mimpi.

Bergegas ambil wudhu, segar rasanya bangun di subuh hari, jiwa pun jernih laksana seorang sufi. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Asyhadu allaa ilaaha illallaah, wa Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah… senang rasanya saat mendengar si sulung melantunkan iqomat.

Kebahagiaan pun selalu berbungah-bungah, saat setiap selesai sholat buah hati selalu mencium tangan, dan tentu saja ciuman tangan dari seorang istri, tanda kepatuhan kepada suami. Tiada yang diharapkan, keridhoan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan ganjaran surga karena baktinya kepada suami tercinta.

Sebagai suami yang baik, ciuman mesra di kening istri tak lupa sebagai balasan, muah… seraya berbisik perlahan, "Maafkan abang ya, selama ini udah bersikap gak adil, terlalu banyak meminta, ingin semuanya sempurna, tetapi diri sendiri ternyata…" hanya air mata yang menetes haru.

Tampak semburat merah di wajahnya dan mata yang berkaca-kaca, bahagia. Memang, dibalik kelembutan mereka, istri-istri kita adalah manusia perkasa. Kesabaran mereka begitu indah, dan kepatuhannya tiada sirna ditelan usia.

Sebagai suami kadang kita tidak pernah mau mengerti, apa yang kita lihat harus selalu bersih, apa yang dicium haruslah wangi, segala rasa hanyalah kelezatan, yang didengar pun haruslah kemerduan. Padahal hitam dan putih, khilaf dan salah pastilah ada, karena mereka pun hanyalah manusia.

Aaah… aku semakin cinta.
"Abang…," terdengar suaranya manja, namun selalu saja dirindukan. Sambil senyum-senyum, "

Ada

kejutan nih, sepertinya hamil lagi, dari 3 hari yang lalu muntah-muntah melulu, ntar siang beliin mangga muda ya."
Wuaaah…..!!!

Wallahua’lam bi showab.
*IKATLAH ILMU DENGAN MENULISKANNYA*
Al-Hubb Fillah wa Lillah,
 

Abu Aufa

[ Dengan Sedikit Pengeditan -Afra-]

]]>
0
afra http://profiles.friendster.com/12629392 <![CDATA[Rumah Tangga Yang Ideal]]> http://afra.blog.friendster.com/2007/03/rumah-tangga-yang-ideal/ 2007-03-20T05:48:39Z 2007-03-20T05:48:39Z RUMAH TANGGA YANG IDEAL

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Menurut ajaran Islam, rumah tangga yang ideal adalah rumah tangga yang diliputi sakinah (ketentraman jiwa), mawaddah (rasa cinta) dan rahmah (kasih sayang). Allah Ta’ala berfirman.

"Artinya : Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir.” [Ar-Ruum : 21]

Dalam rumah tangga yang Islami, seorang suami atau isteri harus saling memahami kekurangan dan kelebihannya, serta harus tahu pula hak dan kewajiban serta memahami tugas dan fungsinya masing-masing, serta melaksanakan tugasnya itu dengan penuh tanggung jawab, ikhlas serta mengharapkan ganjaran dan ridha dari Allah Ta’ala.

Sehingga, upaya untuk mewujudkan pernikahan dan rumah tangga yang mendapat keridhaan Allah ‘Azza wa Jalla dapat menjadi kenyataan. Akan tetapi, mengingat kondisi manusia yang tidak bisa lepas dari kelemahan dan kekurangan, sementara ujian dan cobaan selalu mengiringi kehidupan manusia, maka tidak jarang pasangan yang sedianya hidup tenang, tenteram dan bahagia mendadak dilanda “kemelut” perselisihan dan percekcokan.

Apabila terjadi perselisihan dalam rumah tangga, maka harus ada upaya ishlah (mendamaikan). Yang harus dilakukan pertama kali oleh suami dan isteri adalah lebih dahulu saling intropeksi, menyadari kesalahan masing-masing, dan saling memaafkan, serta memohon kepada Allah agar disatukan hati, dimudahkan urusan dalam ketaatan kepadaNya, dan diberikan kedamaian dalam rumah tangganya. Jika cara tersebut gagal, maka harus ada juru damai dari pihak keluarga suami maupun isteri untuk mendamaikan keduanya. Mudah-mudahan Allah memberikan taufiq kepada pasangan suami isteri tersebut.

Apabila sudah diupayakan untuk damai sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur’an,

surat

An-Nisaa’ ayat 34-35, tetapi masih juga gagal, maka Islam memberikan jalan terakhir, yaitu “perceraian”.

Syaikh Musthafa Al-‘Adawi berkata, “Apabila masalah antara suami isteri semakin memanas, hendaklah keduanya saling memperbaiki urusan keduanya, berlindung kepada Allah dari syaitan yang terkutuk, dan meredam perselisihan antara keduanya, serta mengunci rapat-rapat setiap pintu perselisihan dan jangan menceritakannya kepada orang lain.

Apabila suami marah sementara isteri ikut emosi, hendaklah keduanya berlindung kepada Allah, berwudhu’ dan shalat dua raka’at. Apabila keduanya sedang berdiri, hendaklah duduk; apabila keduanya sedang duduk, hendaklah berbaring, atau hendaklah salah seorang dari keduanya mencium, merangkul, dan menyatakan alasan kepada yang lainnya. Apabila salah seorang berbuat salah, hendaknya yang lainnya segera memaafkannya karena mengharapkan wajah Allah semata.” [1]

Di tempat lain beliau berkata, “Sedangkan berdamai adalah lebih baik, sebagaimana yang difirmankan oleh Allah Ta’ala. Berdamai lebih baik bagi keduanya daripada berpisah dan bercerai. Berdamai lebih baik bagi anak daripada mereka terbengkalai (tidak terurus). Berdamai lebih baik daripada bercerai. Perceraian adalah rayuan iblis dan termasuk perbuatan Harut dan Marut.

Allah Ta’ala berfirman.
"Artinya : “Maka mereka mempelajari dari keduanya (Harut dan Marut) apa yang (dapat) memisahkan antara seorang (suami) dengan isterinya. Dan mereka tidak dapat mencelakakan seseorang dengan sihirnya kecuali dengan izin Allah.” [Al-Baqarah : 102]

Di dalam Shahiih Muslim dari Shahabat Jabir bin ‘Abdillah Radhiyallaahu ‘anhuma, ia berkata, “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya iblis meletakkan singgasananya di atas lautan. Kemu-dian ia mengirimkan balatentaranya. Tentara yang paling dekat kedudukannya dengan iblis adalah yang menimbulkan fitnah paling besar kepada manusia. Seorang dari mereka datang dan berkata, ‘Aku telah lakukan ini dan itu.’ Iblis menjawab, ‘Engkau belum melakukan apa-apa.’’ Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan, ‘Lalu datanglah seorang dari mereka dan berkata, ‘Tidaklah aku meninggalkannya sehingga aku telah berhasil memisahkan ia (suami) dan isterinya.’’ Beliau melanjutkan, ‘Lalu iblis mendekatkan kedudukannya. Iblis berkata, ‘Sebaik-baik pekerjaan adalah yang telah engkau lakukan.” [2]

Ini menunjukkan bahwa perceraian adalah perbuatan yang dicintai syaitan.

Apabila dikhawatirkan terjadinya perpecahan antara suami isteri, hendaklah hakim atau pemimpin mengirim dua orang juru damai. Satu dari pihak suami dan satu lagi dari pihak isteri untuk mengadakan per-damaian antara keduanya. Apabila keduanya damai, maka alhamdulillaah. Namun apabila permasalahan terus berlanjut antara keduanya kepada jalan yang telah digariskan dan keduanya tidak mampu menegakkan batasan-batasan Allah di antara keduanya. Yaitu isteri tak lagi mampu menunaikan hak suami yang disyari’atkan dan suami tidak mampu menunaikan hak isterinya, serta batas-batas Allah menjadi terabaikan di antara keduanya dan keduanya tidak mampu menegakkan ketaatan kepada Allah, maka ketika itu urusannya seperti yang Allah firmankan:

"Artinya : Dan jika keduanya bercerai, maka Allah akan memberi kecukupan kepada masing-masing dari karunia-Nya. Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya), Mahabijaksana.” [An-Nisaa' : 130] [3]

Allah Ta’ala berfirman:

"Artinya : Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (isteri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dan hartanya. Maka perempuan-perempuan yang shalih adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka). Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan akan nusyuz[4], hendaklah kamu beri nasihat kepada mereka, tinggalkanlah mereka di tempat tidur (pisah ranjang), dan (kalau perlu) pukullah mereka. Tetapi jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari alasan untuk menyusah-kannya. Sungguh, Allah Mahatinggi, Mahabesar. Dan jika kamu khawatir terjadi persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang juru damai dari keluarga laki-laki dan seorang juru damai dari keluarga perempuan. Jika keduanya (juru damai itu) bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami isteri itu. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.” [An-Nisaa' : 34-35]

Pada hakikatnya, perceraian dibolehkan menurut syari’at Islam, dan ini merupakan hak suami. Hukum thalaq (cerai) dalam syari’at Islam adalah dibolehkan.

Adapun hadits yang mengatakan bahwa “perkara halal yang dibenci Allah adalah thalaq (cerai),” yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2178), Ibnu Majah (no. 2018) dan al-Hakim (II/196) adalah hadits lemah. Hadits ini dilemahkan oleh Ibnu Abi Hatim rahimahullaah dalam kitabnya, al-‘Ilal, dilemahkan juga oleh Syaikh Al-Albani rahimahullaah dalam Irwaa-ul Ghaliil (no. 2040).

Meskipun thalaq (cerai) dibolehkan dalam ajaran Islam, akan tetapi seorang suami tidak boleh terlalu memudahkan masalah ini. Ketika seorang suami akan menjatuhkan thalaq (cerai), ia harus berfikir tentang maslahat (kebaikan) dan mafsadah (kerusakan) yang mungkin timbul akibat perceraian agar jangan sampai membawa kepada penyesalan yang panjang. Ia harus berfikir tentang dirinya, isterinya dan anak-anaknya, serta tanggung jawabnya di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla pada hari Kiamat.

Kemudian bagi isteri, bagaimana pun kemarahannya kepada suami, hendaknya ia tetap sabar dan janganlah sekali-kali ia menuntut cerai kepada suaminya. Terkadang ada isteri meminta cerai disebabkan masalah kecil atau karena suaminya menikah lagi (berpoligami) atau menyuruh suaminya menceraikan madunya. Hal ini tidak dibenarkan dalam agama Islam. Jika si isteri masih terus menuntut cerai, maka haram atasnya aroma Surga, berdasarkan sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam:

"Artinya : Siapa saja wanita yang menuntut cerai kepada suaminya tanpa ada alasan yang benar, maka haram atasnya aroma Surga.” [5]

Abu Hurairah Radhiyallaahu ‘anhu berkata,

"Artinya : Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam melarang: … dan janganlah seorang isteri meminta (suaminya) untuk menceraikan saudara (madu)nya agar mem-peroleh nafkahnya.” [6]

Marilah kita berupaya untuk melaksanakan pernikahan secara Islami dan membina rumah tangga yang Islami, serta berusaha meninggalkan aturan, tata cara, upacara dan adat istiadat yang bertentangan dengan Islam. Ajaran Islam-lah satu-satunya ajaran yang benar dan diridhai oleh Allah ‘Azza wa Jalla sebagaimana Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

"Artinya : Sesungguhnya agama di sisi Allah hanyalah Islam.” [Ali ‘Imran : 19]

“…Wahai Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami pa-sangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa.” [Al-Furqaan : 74]

Setiap keluarga selalu mendambakan terwujudnya rumah tangga yang bahagia, diliputi sakinah, mawaddah dan rahmah. Oleh karena itu, setiap suami dan isteri wajib menunaikan hak dan kewajibannya sesuai dengan syari’at Islam dan bergaul dengan cara yang baik

[Disalin dari buku Bingkisan Istimewa Menuju Keluarga Sakinah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Putaka A-Taqwa Bogor - Jawa Barat, Cet Ke II Dzul Qa'dah 1427H/Desember 2006]
__________
Foote Note
[1]. Fiqhut Ta’amul bainaz Zaijaini (hal. 37).
[2]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (no. 2813 (67)).
[3]. Dinukil dari Fiqh Ta’amul bainaz Zaujaini (hal. 87-92) secara ringkas.
[4]. Nusyuz yaitu meninggalkan kewajibannya selaku isteri, seperti meninggalkan rumah tanpa seizin suaminya.
[5]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2226), at-Tir-midzi (no. 1187), Ibnu Majah (no. 2055), ad-Darimi (II/162), Ibnul Jarud (no. 748), Ibnu Hibban (no. 1320), ath-Thabari dalam Tafsiir-nya (no. 4843-4844), al-Hakim (II/200), al-Baihaqi (VII/316), dari Tsauban radhiyallaahu ‘anhu.
[6]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 2140), Muslim (no. 1515 (12)) dan an-Nasa-i (VII/258).

www.almanhaj.or.id

]]>
1
afra http://profiles.friendster.com/12629392 <![CDATA[Jiwa Yang Selalu Merasa Kaya]]> http://afra.blog.friendster.com/2007/03/jiwa-yang-selalu-merasa-kaya/ 2007-03-06T16:11:54Z 2007-03-06T16:11:54Z MasjiduiTetangga yang memiliki mobil baru, rekan seprofesi yang kariernya cepat menanjak, teman kuliah yang rata-rata sukses, tak terasa menimbulkan benih-benih kedengkian dalam hati. Setan lalu membisikkan khayalan dan angan-angan lebih jauh lagi. Padahal ada begitu banyak nikmat yang telah Allah berikan kepada kita.

Anak-anak yang cerdas dan penurut, rumah tangga yang tenang dan tentram, pekerjaan yang halal, adalah anugerah Allah yang patut disyukuri. Namun kita begitu sering melupakan nikmat yang Allah berikan itu dan lebih suka membandingkannya dengan orang lain, padahal mensyukuri nikmat akan menambah besarnya nikmat itu sendiri. Mengapa tidak bersikap qona’ah saja dengan skenario Allah? Sebab Allah-lah yang lebih mengerti akan kebutuhan kita.

Jika Allah tidak memberi harta berlimpah kepada kita, itu bisa jadi karena kita yang belum siap. Allah tidak ingin kita menjadi pribadi yang sombong dan takabbur. Allah tidak ingin kita menjadi seperti Fir’aun dan Qorun yang mengkufuri nikmat. Jika Allah belum memberi kita kedudukan yang baik dalam karier, itu mungkin karena Allah masih menganggap kita belum mampu memegang amanah, yang justru malah akan menjatuhkan kita.

Jadi, mengapa harus muncul benih-benih kedengkian? Toh semuanya sudah diatur oleh Allah dengan seadil-adilnya dan seproporsional mungkin. Kita tinggal berusaha dan menjalaninya dengan lapang dada, tak perlu muncul keluh kesah apalagi murka. Kedengkian hanya akan membuat hati kita selalu gelisah dan akan menghilangkan kebaikan seperti api yang melalap kayu bakar. Hati kita akan terus menerus merasa tidak puas, terombang-ambing oleh perasaan ketidak-adilan semu. Akhirnya depresi yang terjadi, dan kita sendirilah yang rugi.

Mari renungkan sabda Rasulullah shalallahu alaihi wa salam berikut ini: "Orang yang kaya bukanlah dengan harta benda akan tetapi orang yang kaya adalah kaya jiwa" (HR Syaikhani dari Abu Hurairah). Maka kekayaan yang hakiki adalah kaya jiwa, dalam arti tidak tamak apa yang ada pada orang lain, tamak terhadap harta, jabatan, kemasyhuran atau wanita yang dimiliki oleh orang lain. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

"Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal." (Thaha: 131)

Jiwa yang kaya merasa yakin bahwa rezekinya akan datang seperti janji Allah: "Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah yang memberi rezekinya…" (al-Hud: 23) sehingga hatinya merasa tenang dan tentram, tidak bermusuhan dengan orang lain hanya karena masalah dunia.

Seperti jawaban Hatim al-Asham yang suatu hari ditanya, "Atas dasar apa engkau bertawakkal dalam masalah ini?" Beliau menjawab, "Atas empat hal: aku tahu bahwa rizkiku tidak akan dimakan oleh seseorang, karena itu hatiku tenang, aku tahu bahwa amalku tidak akan pernah dilakukan oleh seseorang, karena itu aku sibuk dengannya, aku tahu bahwa kematian akan datang dengan tiba-tiba, karena itu aku mempersiapkannya, dan aku tahu bahwa aku selalu ada dalam pengawasan Allah, karena itu aku malu kepada-Nya."

Atau seperti jawaban ‘Ali bin Abi Thalib ketika dimintai pendapat, "Wahai Abul Hasan, terangkanlah sifat dunia kepada kami!" Lalu beliau berkata, "Dengan ungkapan yang panjang atau pendek?" Mereka berkata, "Dengan ungkapan yang pendek saja." Beliau berkata, "Yang halal dari dunia pasti akan diperhitungkan sedangkan yang haram darinya adalah bekal yang menjerumuskan ke Neraka."

Begitulah prinsip kehidupan yang mereka jalani, yang bisa menjadi pelepas dahaga bagi jiwa-jiwa yang kering dan tamak. Prinsip hidup yang datang dari hati yang selalu merasa cukup dengan apa yang Allah berikan. Prinsip yang semoga mampu menggedor pintu kesadaran jiwa kita yang kini hanyut pada ambisi-ambisi dunia, jiwa yang selalu menuruti keinginan hawa nafsu. Mampukah kita menerapkannya?

Penulis : MT Aminudin

Sumber : www.jilbab.or.id

]]>
0